TERBARU

PGRI Tolak Kewajiban Guru Untuk Meneliti Sebagai Syarat Kenaikan Pangkat

Berikut ini adalah pernyataan resmi ketua PGRI pusat, Sulistiyo pada Group FB Pengurus Besar PGRI yang menentang kewajiban guru untuk harus meneliti setiap pengajuan permohonan naik pangkat

Memperhatikan pernyataan seorang pejabat di Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, Kemdikbud, yang menyatakan bahwa guru wajib meneliti dan menulis karya ilmiah, saya merasa prihatin dan "nggreges". Pasti akan semakin banyak guru stres. Kebijakan itu harus dikoreksi, diluruskan, dan diperbaiki. Saat ini lebih adri 800.000 orang guru dan pengawas tidak dapat naik pangkat karena kewajiban itu. 

PGRI sgt mendukung upaya peningkatan profesionalitas guru. Tetapi, menjadikan meneliti dan menulis karya ilmiah, yang masuk dalam publikasi ilmiah, wajib dilaksanakan oleh guru dan jika guru tidak melakukannya dia tidak bisa naik pangkat dan bahkan tunjangan profesinya terncam tdk diberikan, sungguh kebijakan yang keliru, menyengsarakan guru, dan dapat berdampak pada gagalnya pelaksanaan tugas utama guru.

Guru dan dosen memang termasuk pendidik. Tetapi, tugas utama guru itu berbeda dengan dosen. Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah (UUGD Pasal 1 Ayat (1)).

Guru adalah peran (role). Peran yang dimaksud hanya nampak jika tugas utamanya dan fungsi khasnya dijalankan. Fungsi khas guru adalah mendidik dan mengajar. semakin mendekati optimal seorang guru semakin nampak peran yang diembannya. Peran sebagai guru, bukan peneliti, bukan juga ilmuwan.

Kalau pun guru harus juga melakukan penelitian dan penulisan karya ilmiah (walaupun dalam UU Guru dan Dosen, tidak disebutkan satu kata pun), maka kegiatan itu tidak boleh menjadi kewajiban yang menghambat nasib guru jika dia sudah melaksanakan tugas pokoknya dengan baik. 

Jadi, kegiatan publikasi ilmiah itu (meneliti dan menulis karya ilmiah beserta variannya), hanya sebagai pendukung untuk meningatkan mutu profesionalitasnya. Jika guru mampu menyusun publikasi ilmiah dia bisa naik pangkat lebih cepat, tetapi jika guru tidak mampu menyusun publikasi ilmiah, tetapi sudah mampu melaksanakan tugas pokoknya dengan baik, walau tidak mampu menyusun publikasi ilmiah, dia tetap berhak naik pangkat dan memperoleh hak lainnya.

Sedangkan dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat (UUGD Pasal 1 Ayat (2)). Nah, jelas bahwa dosen adalah ilmuwan yang harus meneliti. Kalau dia tidak meneliti tidak boleh naik pangkat.

Perlakuannyapun beda. Dosen disiapkan untuk bisa meneliti dan menulis karya ilmiah, dibiayai, jika naik pangkat juga memperoleh kenaikan tnjangan fungsional yang cukup besar. Guru? Tidak ada.

Saat ini bahkan banyak guru dan pengawas yang stres karena tuntutan melakukan publikasi ilmiah, sedagkan mereka tidak mampu, baik kompetensinya maupun biayanya. Jangan sampai guru akhirnya memilih tidak melaksanakan tugas pokoknya dengan baik, krena tuntutan menyusun publiikasi ilmiah yang sebenarnya bukan tugas pokok guru.

Jika kemdikbud beralasan karena diatur di Permenegpan dan) Nomor 16 Tahun 2009, sebaiknya pernegpan dan RB itu yang harus diperbaiki, karena tidak sesuai dengan UU Guru dan Dosen maupun dg PP Nomor 74 tentang guru dan bertentangan dengan tugas utama guru.

Banyak pedoman dan aturan di kemdikbud yang disiapkan oleh dosen yang tidak paham tentang guru. Jadi kalau membuat aturan, ukurannya adalah dirinya sendiri. Dia tidak bisa paham ada guru di Papua, NTT, SUlawesi, Maluku, dan sebaginya yang dituntut harus melakukan tugas (tambahan yang mengada-ada) seperti dirinya, sebagai dosen,

Jakarta, 27 Juni 2015
Ketua Umum PB PGRI,

Sulistiyo

Artikel Terkait

Website ""

Email : infoptkdotcom@gmail.com
Facebook : https://www.facebook.com/infoptkdotcom
Google + : https://plus.google.com/+opperantoni

5 komentar:

  1. Ya betul, bukalah mata dan hati para penentu kebijakan sehingga kami sebagai guru ini, maksimal melaksanakan tugas pokok yang kami emban, tidak disibukkan mengurusi yang bukan tupoksinya.

    BalasHapus
  2. PAK, saya merasa aturan sertifikasi tahun 2016 juga kurang pas, kalau minta hasil nnilai UKG TAHUN 2015 dimana ya pak (KOK tidak diperlihatkan semuanya)Salam hormat,
    Pak apakah peserta sertifikasi tahun 2016 sekarang tidak dilihat lagi masa kerja gurunya, hanya dilihat lulus tidaknya dia ikut UKG tahun 2015, dan nilai UKG tahun 2015 kenapa tidak transparan, saya TMT 01 April 2006 (masa kerja 10 tahun) dan ternyata saya di tahun ini juga belum beruntung jadi peserta sertifikasi, setelah saya croscek ke dinas kabupaten balangan KALSEL katanya karena nilai UKG tahun 2015 tidak memenuhi standar minimal, tapi ketika saya minta hasil nilai UKG tahun 2015 tidak bisa ditunjukkan, dan saya lihat daftar calon peserta sertifikasi tahun 2016, yang baru CPNS dan masa kerja 10 bulan lulus jadi calon sertifikasi karena dia lulus UKG 2015, Tolong petunjuknya pak, Terimakasih (Pak dwi, guru smkn 1 paringin kab.balangan, KALSEL,081349717220) ada juga pak kawan, padahal beliau itu sudah S2, dan pintar, jadi guru berprestasi mewakili KALSEL di lomba pusat, kebetulan mungkin nilai UKG tahun 2015 tidak lulus, beliau juga belum jadi calon peserta sertifikasi tahun 2016 ini, nurut bapak aturan yang mana ya yang kurang pas, boleh usul pak gimana kalau sertifikasi nilainya (masa kerja diperhitungkan x 30%) + (PKG x 30 %) + (Prestasi x 20 %) + (Nilai UKG x 20 %), atau ditiadakan saja sertifikasi diganti seperti gaji tentara, polisi, atau yang digadang-gadang oleh menteri Aparatur Negara sesuai prestasi, dan jabatan, dan masa kerja, Terimakasi sekali lagi atas perhatian bapak, semoga pendidikan Indonesi semakin maju,

    BalasHapus
  3. Salam hormat,
    Pak apakah peserta sertifikasi tahun 2016 sekarang tidak dilihat lagi masa kerja gurunya, hanya dilihat lulus tidaknya dia ikut UKG tahun 2015, dan nilai UKG tahun 2015 kenapa tidak transparan, saya TMT 01 April 2006 (masa kerja 10 tahun) dan ternyata saya di tahun ini juga belum beruntung jadi peserta sertifikasi, setelah saya croscek ke dinas kabupaten balangan KALSEL katanya karena nilai UKG tahun 2015 tidak memenuhi standar minimal, tapi ketika saya minta hasil nilai UKG tahun 2015 tidak bisa ditunjukkan, dan saya lihat daftar calon peserta sertifikasi tahun 2016, yang baru CPNS dan masa kerja 10 bulan lulus jadi calon sertifikasi karena dia lulus UKG 2015, Tolong petunjuknya pak, Terimakasih (Pak dwi, guru smkn 1 paringin kab.balangan, KALSEL,081349717220) ada juga pak kawan, padahal beliau itu sudah S2, dan pintar, jadi guru berprestasi mewakili KALSEL di lomba pusat, kebetulan mungkin nilai UKG tahun 2015 tidak lulus, beliau juga belum jadi calon peserta sertifikasi tahun 2016 ini, nurut bapak aturan yang mana ya yang kurang pas, boleh usul pak gimana kalau sertifikasi nilainya (masa kerja diperhitungkan x 30%) + (PKG x 30 %) + (Prestasi x 20 %) + (Nilai UKG x 20 %), atau ditiadakan saja sertifikasi diganti seperti gaji tentara, polisi, atau yang digadang-gadang oleh menteri Aparatur Negara sesuai prestasi, dan jabatan, dan masa kerja, Terimakasi sekali lagi atas perhatian bapak, semoga pendidikan Indonesi semakin maju,

    BalasHapus
  4. Salam hormat,
    Pak apakah peserta sertifikasi tahun 2016 sekarang tidak dilihat lagi masa kerja gurunya, hanya dilihat lulus tidaknya dia ikut UKG tahun 2015, dan nilai UKG tahun 2015 kenapa tidak transparan, saya TMT 01 April 2006 (masa kerja 10 tahun) dan ternyata saya di tahun ini juga belum beruntung jadi peserta sertifikasi, setelah saya croscek ke dinas kabupaten balangan KALSEL katanya karena nilai UKG tahun 2015 tidak memenuhi standar minimal, tapi ketika saya minta hasil nilai UKG tahun 2015 tidak bisa ditunjukkan, dan saya lihat daftar calon peserta sertifikasi tahun 2016, yang baru CPNS dan masa kerja 10 bulan lulus jadi calon sertifikasi karena dia lulus UKG 2015, Tolong petunjuknya pak, Terimakasih (Pak dwi, guru smkn 1 paringin kab.balangan, KALSEL,081349717220) ada juga pak kawan, padahal beliau itu sudah S2, dan pintar, jadi guru berprestasi mewakili KALSEL di lomba pusat, kebetulan mungkin nilai UKG tahun 2015 tidak lulus, beliau juga belum jadi calon peserta sertifikasi tahun 2016 ini, nurut bapak aturan yang mana ya yang kurang pas, boleh usul pak gimana kalau sertifikasi nilainya (masa kerja diperhitungkan x 30%) + (PKG x 30 %) + (Prestasi x 20 %) + (Nilai UKG x 20 %), atau ditiadakan saja sertifikasi diganti seperti gaji tentara, polisi, atau yang digadang-gadang oleh menteri Aparatur Negara sesuai prestasi, dan jabatan, dan masa kerja, Terimakasi sekali lagi atas perhatian bapak, semoga pendidikan Indonesi semakin maju,

    BalasHapus

Silahkan berikan komentar dan jawaban pertanyaan dari saudara kita demi kemajuan kita bersama

 
Copyright © 2016 Info PTK | Cek Dapodik | Info GTK | Info Sertifikasi
Design by FBTemplates | Distributed by Kaizentemplate.